Penjelasan Pengertian Makna Arti Pajak Penghasilan Final (PPh Final) adalah

Pajak Penghasilan Final (PPh Final) dalam Kamus Istilah Dunia Perpajakan untuk Wajib Pajak & Konsultan Pajak di Indonesia, maka Pajak Penghasilan Final (PPh Final) merupakan bahasa yang paling sering digunakan oleh para pelaku perpajakan baik akuntansi, bea dan cukai, serta peradilan pajak disertai dengan penjelasan. Dan kata-kata Pajak Penghasilan Final (PPh Final) tersebut jarang sekali dimengerti & digunakan oleh sebagian banyak orang pada umumnya.

 

Penghasilan yang dikenakan pajak bersifat final merupakan penghasilan-penghasilan tertentu yang dikenai PPh dengan tarif tertentu (final), baik melalui pemotongan oleh pihak lain atau dengan menyetor sendiri. Penghasilan Wajib Pajak Badan yang dikenai pajak bersit final, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Bunga deposito/tabungan dan diskonto Sertifikat Bare Indonesia/Surat Berharga Negara;
2. Bunga/diskonto obligasi;
3. Penghasilan penjualan saham yang diperdagangkan bursa efek;
4. Penghasilan penjualan saham milik perusahaan modal
ventura; 5. Penghasilan Usaha Penyalur/Dealer/Agen Produk BBM
6. Penghasilan Pengalihan Hak atas Tanah/Bangunan:
7. Penghasilan Persewaan atas Tanah/Bangunan:
8. Imbalan Jasa Konstruksi;
9. Perwakilan Dagang Asing;
10. Pelayaran/Penerbangan Asing;
11. Pelayaran Dalam Negeri;
12. Penilaian Kembali Aktiva Tetap;
13. Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

 

Penggunaan makna istilah Pajak Penghasilan Final (PPh Final) sendiri dalam perpajakan adalah  bentuk pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan tertentu pada tingkat final. Ini berarti bahwa setelah dipotong PPh Final, penerima penghasilan tersebut tidak lagi wajib membayar pajak tambahan. PPh Final sering diterapkan pada jenis penghasilan tertentu atau pada penerima penghasilan tertentu.

Berikut adalah beberapa penggunaan makna istilah PPh Final dalam perpajakan:

  1. Penghasilan Tertentu: PPh Final biasanya diterapkan pada jenis penghasilan tertentu, seperti penghasilan dari bunga bank, royalti, dividen, atau penghasilan usaha kecil. Setiap negara dapat menentukan jenis penghasilan yang dikenakan PPh Final.
  2. Tarif Pajak Tetap: PPh Final biasanya dikenakan pada tarif pajak tetap yang telah ditentukan oleh otoritas pajak. Tarif ini mungkin berbeda untuk setiap jenis penghasilan yang dikenakan PPh Final.
  3. Penerima Penghasilan Tertentu: PPh Final dapat dikenakan pada penerima penghasilan tertentu, seperti penerima penghasilan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), atau individu dengan tingkat penghasilan tertentu. Penerima penghasilan ini tidak lagi wajib melaporkan penghasilan mereka secara terpisah.
  4. Pemotongan PPh oleh Pihak Ketiga: Dalam beberapa kasus, PPh Final dapat dipotong langsung oleh pihak ketiga yang membayar penghasilan tersebut, seperti bank yang membayar bunga atau perusahaan yang membayar royalti. Hal ini dapat mengurangi administrasi perpajakan bagi penerima penghasilan.
  5. Tidak Wajib Melaporkan Penghasilan Tambahan: Penerima penghasilan yang sudah dikenakan PPh Final biasanya tidak lagi diwajibkan untuk melaporkan penghasilan tersebut dalam pengembalian pajak tahunan mereka. PPh Final dianggap sebagai kewajiban pajak yang sudah selesai.
  6. Penggunaan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak): Meskipun PPh Final diterapkan pada tingkat final, penerima penghasilan mungkin tetap wajib memiliki NPWP dan menyampaikan informasi tertentu kepada otoritas pajak.
  7. Kejelasan Ketentuan Perpajakan: Ketentuan perpajakan terkait PPh Final harus jelas dan dapat diakses oleh para wajib pajak agar mereka dapat memahami ketentuan dan kewajiban mereka.

 

Semoga penjelasan definisi kosakata Pajak Penghasilan Final (PPh Final) dapat menambah wawasan serta pengetahuan anda dalam berkomunikasi secara lisan atau tertulis.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *